Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

.

Akhi…

Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. ‘Kan kita jumpai pula indahnya penjagaan diri mereka dari aib dan maksiat. Merekalah orang-orang yang paling bersegera menjauhi maksiat. Bahkan, sangat menjauh dari sarana dan sebab-sebab yang mendorong kepada perbuatan maksiat.

Bila kita membaca kehidupan anak-anak atau para remaja di masa salaf, niscaya kita dapati mereka adalah darah-darah muda yang tampak kecintaannya terhadap din, semangatnya dalam membela al-haq, dan sikap bencinya kepada perbuatan dosa. Maka, kita dapati mereka di usia muda, sudah memiliki hafalan Al-Qur’an, semangat yang besar untuk berjihad, dan kecerdasan yang menakjubkan.

Sebaliknya, sungguh sangat sedih hati ini. Tidakkah kita merasakan bahwa kaum muslimin saat ini terpuruk, terhina dan tidak berdaya di hadapan orang-orang kafir, padahal jumlah kita banyak? Lihatlah diri kita! Bandingkan diri kita dengan para pemuda di masa salaf! Akhi… saya, antum, kita semua pernah bermasiat. Namun, sampai kapan kita bermaksiat kepada-Nya?

.

Saya tidak mengharamkan antum berdakwah kepada wanita, karena Nabi pun berdakwah kepada wanita!

Saya pun tidak mengharamkan muslim atau muslimah memanfaatkan facebook, karena untuk mengharamkan sesuatu membutuhkan dalil.

Siapa yang melarangmu mendakwahi mereka akhi…?

Bahkan, dulu kumasih berprasangka baik padamu bahwa kau ‘kan dakwahi teman-teman lamamu, termasuk para wanita itu…

Namun, yang terjadi adalah sebagaimana yang kau tahu sendiri…

Tak perlu kutulis…

Karena kau pasti tahu sendiri…

.

Catat! Tak kubuka friendlist FB-mu karena aku tak mencari-cari aibmu…

Namun, tidakkah kau sadar bahwa FB itu sangat-sangat terbuka?

Hingga dirimu sendiri yang tak sadari…

Bahwa tingkah lakumu pada para akhwat itu,

Dapat dilihat kawan-kawanmu yang lain, termasuk diriku…

Yang inilah sebab yang mendorongku menorehkan pena dalam lembaran-lembaran ini…

Duh….

Betapa sering Allah menutupi aib seorang hamba…

Namun dirinyalah sendiri yang membongkar aibnya…

.

Ya Allah…

Kuadukan kesedihan hatiku ini hanya kepadaMu…

Hanya kepadaMulah kuserahkan hatiku…

Mudah-mudahan Kau mendengar doaku…

Dan Kau maafkan kesalahan kawan-kawanku itu…

Di samping ku terus berhadap agar Kau pun maafkan diriku…

.

Akhi…

Pernahkah kau baca firman Allah yang menyinggung “mata yang berkhianat”?

Baiklah, kita periksa kembali. Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin: 19

يعلم خاينة الأعين

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat”

Nah, apakah yang dimaksud dengan mata yang berkhianat itu? Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu turun di masa para shahabat. Shahabat Nabilah yang paling mengerti makna Al-Qur’an karena mereka hidup bersama Nabi, langsung mendapat bimbingan dan pengarahan Nabi. Maka, kini kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas, sebagai hadiahku untukmu.

Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas? Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari kalangan shahabat Nabi. Kudapatkan tafsir ini dari Abul Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam kitab beliau,ذم الهوى. Ibnu Abbas berkata

الرجل يكون في القوم فتمر بهم المرأة فيريهم أنه يغض بصره عنها فإن رأى منهم غفلة نظر إليها فإن خاف أن يفطنوا إليه غض بصره وقد اطلع الله عز وجل من قلبه أنه يود أنه نظر إلى عورتها

“Seseorang berada di tengah banyak orang lalu seorang wanita melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa MENAHAN PANDANGANNYA DARI WANITA TERSEBUT. Jika ia melihat mereka lengah, ia pandangi wanita tersebut. Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah ‘azza wa jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat wanita tersebut .”

.

Camkan itu akhi…!

Kita sudah lama mengenal Islam…

Kita sudah lama ngaji…

Apakah seseorang yang sudah lama ngaji pantas seperti itu?

Inginkah akhi dikenal manusia sebagai pemuda yang shalih…

Yang senantisa menundukkan pandangan di alam nyata…

Namun kau berkhianat dengan matamu…

Kau tipu kawan-kawanmu yang berprasangka baik kepadamu…

Tidakkah ‘kau malu kepada Allah…

Yang melihatmu di kala tiada orang lain di sisimu selain laptopmu?

Yang dengannya kau bisa pandangi wanita sesuka hatimu…?

Yang dengannya kau bisa saling sapa dengannya mereka sepuasmu..?

Yang dengannya kau bisa berbincang-bincang dengannya sekehendakmu…?

.

Akhi…

Janganlah ‘kau marah padaku…

Marahlah pada Ibnu Abbas jika kau mau…

Karena dialah yang menjelaskan arti mata khianat kepadaku…

.

Akhi…

Jika kau malu bermaksiat di hadapan kawan-kawanmu, apalagi di hadapan para wanita itu…

Ketahuilah bahwa (lihat selengkapnya di http://alashree.wordpress.com/2009/11/01/akhi-apa-susahnya-kau-hapus-akhwat-dari-friendlist-facebookmu/)