Berita, Orang Ngaku Rasul

Warga Tanjungpriok, Jakarta Utara digemparkan oleh ulah Sakti A Sihite, (32), yang mengaku dirinya seorang Rasul. Ironisnya, pengakuan tersebut juga disiarkannya melalui situs jaring sosial pertemanan facebook dan milist. Bahkan juga dilansir blog pribadinya di http://www.saktisihite.com.

Tak pelak, tempat tinggal `sang Rasul`, Sakti A Sihite di Jalan Swasembada Timur XXIII No 6, RT 11/6, Kelurahan Kebonbawang, Kecamatan Tanjungpriok, Jakut disatroni warga. Warga mengaku resah dengan keberadaan dan informasi tersebut. Oleh karena itu, warga ingin mengecek kebenaran itu dari mulut Sakti yang mantan staf personalia PT Pelindo II tersebut.

Namun mereka terpaksa gigit jari. Sebab, pria yang diketahui berasal dari Medan, Sumatera Utara ini, sejak pukul 09.00 sudah meninggalkan tempat tinggalnya yang merupakan kos-kosan milik Sri di kamar No J6. “Tadi pagi Sakti sudah pergi membawa tas besar. Saya tidak tahu dia mau pergi ke mana,” kata Semison, yang mengaku tetangga kos Sakti, Selasa (17/11).

Menurutnya, Sakti tinggal di rumah kos itu sejak setahun lalu. Sebelumnya dia tinggal di Gang 8, Swasembada Timur, Kebonbawang dengan istri dan anaknya. “Namun, setelah bercerai, dia tinggal sendiri di kos,” katanya lagi.

Semison mengaku, dirinya sudah pernah melihat kamar kos tetangganya itu. Namun, menurutnya tak ada yang aneh. “Biasa saja, hanya ada album foto, dan sebagainya. Tidak ada yang istimewa,” terangnya.

Sementara itu, dari dalam kamar itu juga ditemukan sebuah brosur berjudul `Panggilan Terhadap Kebenaran` yang berisikan seruan yaitu `Tuhan telah menunjuk kepada Saya menjadi rasul-Nya. Wajib bagi bapak, ibu, dan saudara-saudara sekalian untuk beriman dan tunduk kepada ajaran Saya`. Petugas Polsek Metro Tanjungpriok yang mendatangi lokasi pun segera mengamankan brosur tersebut.

Banyaknya warga yang ingin mendatangi tempat kos Sakti, tentunya membuat petugas Polsek Metro Tanjungpriok, meningkatkan penjagaan. Apalagi warga sekitar mengaku geram mendengar di daearahnya ada orang yang mengaku rasul. Selain memperketat pengamanan, petugas juga melarang warga dan wartawan masuk ke dalam kamar kos. Selain karena takut merusak barang bukti, penghuni kos juga tidak ada di tempat. “Kita masih berjaga dulu, dan belum melakukan penggeledahan,” jelas Kanit Reskrim Polsek Tanjung Priok Inspektur Dua (Ipda) Mulyana, yang ditemui di lokasi kejadian bersama Lurah Kebonbawang, Dadi Suradi.

Disinggung apakah pihaknya akan menjerat Sakti dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik, Mulyana mengaku belum mengarah ke sana. Demikian halnya dengan penghinaan terhadap agama. “Kita tunggu keputusan tentang kasus ini dari MUI,” ujarnya.

Sosok Sakti di mata tetangganya, selama ini dikenal pendiam dan jarang bergaul. Dia hanya berbicara secukupnya kepada para tetangganya. Walaupun begitu, Sakti yang mengaku kerja di perusahaan kargo di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, dikenal sebagai orang yang sopan.

Fatma, pengurus RT 11 menambahkan, Sakti kos di rumah ibu Sri, sejak setahun lalu. Dengan bayaran Rp450 ribu per bulan. “Dia pindahan dari Gang 8, tidak jauh dari tempatnya kosnya saat ini. Sayangnya, kepindahan itu tidak dilaporkan ke pengurus RT dan RW setempat.

Lurah Kebonbawang, Dadi Suradi, menyayangkan, Sakti tidak segera melapor ke pengurus RT/RW. “Dari informasi yang didapat, Sakti memiliki alamat KTP di Jalan Tirta III No 43, RT 7/3, Durensawit, Jakarta Timur. Saya juga mengimbau kepada pemilik kontrakan maupun kos-kosan agar melaporkan penyewa baru di kediamannya ke pengurus RT setempat,” imbau Dadi.

Sumber berita :http://www.beritajakarta.com/